Kreatifitas, kemerdekaan dan pengakuan
Dalam satu kesempatan diskusi bersama dengan rekan saya, ketika di ajak berdiskusi mengenai proklamasi planet kreatif di kota bekasi, rekan saya tersebut bertanya mengapa menggunakan nama proklamasi yang identik dengan kemerdekaan. Sejenak saya seruput minuman hazelnut chocolate yang ada di hadapan saya, dengan sedikit tersenyum saya hanya menjawab “karena kreatifitas butuh kemerdekaan dan terkadang butuh pengakuan”. Jawaban ini tidak perlu di perpanjang lagi ketika saya berbicara dengan rekan saya yang memang pemerhati dunia kreatif dan bergerak di bidang kreatif. Namun bagi beberapa orang akan mengernyitkan dahinya..untuk itu saya akan menjelaskan mengapa kreatifitas butuh kemerdekaan dan pengakuan.
Kreatifitas merupakan anugrah terbesar tuhan kepada manusia untuk dapat bertahan dalam segala jenis tantangan dan ujian kehidupan. Bila kreatifitas tidak di anugrahkan tuhan kepada manusia, maka segala entah berapa lama ras manusia musnah dari bumi ini. Namun pada kenyataanya kreatifitas yang sebenarnya ada pada diri setiap manusia terpenjara oleh perasaan, dan lingkungan.
Kreatifitas harus dibebaskan dari beberapa penjara di atas agar dapat berkembang, kreatifitas yang tertahan oleh rasa takut untuk berbeda, pola pemikiran yang merasa takut di tertawai, takut di koreksi dapat menyebabkan kreatifitas manusia terus menurun. Dan akhirnya karena terbiasa untuk mengikuti arus seseorang akan terpenjara dengan perasaannya sendiri untuk hingga saat mampu merubah pola pikirnya.
Lingkungan juga begitu besar perannya dalam menumbuh kembangkan kreatifitas manusia, lingkungan yang menjustifikasi bahwa sesuatu yang baru dan segar akan mampu merusak system yang telah berjalan, lingkungan yang tidak memberikan ruang untuk sebuah kreatifitas untuk berkembang karena takut tersaingi dan takut untuk beradaptasi dengan sesuatu yang baru juga bisa mempersulit para pemilik kreatifitas untuk lebih ekpresif. Untuk itulah kreatifitas terkadang perlu untuk diakui agar dapat berkembang.
Planet kreatif hadir untuk menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi seluruh komunitas dan pelaku usaha kreatif untuk mengekspresikan kreatifitasnya. Juga mendorong masyarakat menghilangkann penjara yang ada pada diri mereka. Karena kreatifitas dapat bekerja seperti virus, yang mampu menginfeksi orang yang melihatnya. Kalau kata pepatah lama , berkumpul dengan tukang minyak wangi maka akan terciprat wanginya, begitu juga dengan kreatifitas, ketika kita sering berinteraksi dengan hal-hal yang “out of the Box” maka akan memicu otak kita untuk memiliki pola piker yang sama, dan sekali lagi yang perlu di ingat, kreatifitas itu ada pada diri setiap orang, terkadang hanya butuh pematik untuk membuatnya meledak.
Memang perlu diakui, terkadang kreatifitas dapat membahayakan, untuk itulah perlu adanya pemahaman mengenai kemerdekaan yang bertanggung jawab, dengan memahami sendiri batasan bahaya yang dapat ditoleransi maka hal ini tentunya tidak menjadi masalah bukan?
Comments
Post a Comment